Find this blog

More Option

15 Februari 2012

-tetesan air di batu karang-



Ah, masih saja aku menghela nafas dalam-dalam sembari menatap buih-buih hasil ketikan tadi. Sejak saat itu, ucapanku ku simpan rapi di dalam memori. Seakan tak percaya, bertanya sekuat apa aku bisa mengeluarkannya. Sebenarnya saja aku ingin biasa, fikirku, tak perlulah sefrontal itu. Meluap-luap, tumpah seperti air yang dipaksa memadat.

“Melupakan itu dengan cara tidak menemui apa yang membuat mu ingat”. Kalimat terakhir dari salah satu buku yang aku sewa dari partner curhatku, yang masih saja aku ingat sampai saat ini. Entah, kalimat itu seperti di tuliskan untuk keadaan ku, terasa pas dan tergugah untuk segera mengaplikasikannya, tanpa tahu seberapa besar nyaliku. Kemudian aku sempurnakan dengan menghapus kombinasi angka-angka dari ponselku, dan ku kirim perintah konyol itu kepadanya. Kembali bertekad, dan menegaskan mungkin saja itu yang terbaik. Selebihnya untuk yang disana.

“Aku baru tahu rasanya. Ini seperti menyelam tanpa alat bantu pernapasan. Sampailah aku di daerah abysal, tetapi nafasku tak lagi terdengar”. Berusaha lirih berbisik pada langit malam itu, agar tidak sampai terbawa angin lalu terdengar kerapuhanku. Kalau-kalau itu terjadi, malu lah aku.


-----*****-----

Aku belum siap, sangat belum siap hari ini. Yang akhirnya membawa ku duduk terpaku dalam bisu. Aku menikmati, kecuali hatinya yang memberikan sebentuk keajaiban bernama perasaan. Hanya saja aku tidak mampu untuk mengulangnya. Berdiri, tertawa geli dalam kegelisahan. Yang membalikkan ku pada relung terdalam. Tetapi, semakin kuat aku berkeinginan, semakin lemah untuk tidak melangkah.

             Belum sempat mengatakan, aku bergurau. Kepadanya dan kepadaku. Tidakkah Ia teliti sebelumnya. Aku berbohong. Jika ku ambil ranting dari dahan yang rapuh, niscaya Ia akan tahu kerapuhanku. Namun, Ia tetap saja berbalik dan dikirimkannya sebuah kalimat senada selamat tinggal. Ia teruskan sekat-sekat yang ku bangun dengan kebodohan. Hadir layaknya siluet yang hilang dari cahaya temaram. Aku tidak mengukirnya di atas pasir yang hilang seketika karena ombak, tetapi dengan tetesan air yang perlahan di atas batu karang. Ada lah itu sebuah kesakitan, penegasan, dalam sudut-sudut perjalanan.


-----*****----- 

Jangan, jangan mencoba mengirim apapun. Aku rasa aku benar. Tentu Ia akan pahami sendiri apa yang telah Ia ucapkan sebelumnya. “Kalaulah kita memang bersanding untuk satu sama lain, kelak kan terungkap juga”. Lebih kurang begitu artinya. Aku harus percaya, dan tidak perlu bergulat dengan setiap perubahan hati, karena tidak hanya dari kalimatnya aku mendengar, banyak dari yang lain yang telah menguraikan dan hal itu benar. Maka untuk apa aku selalu gelisah menghapus angka-angka nya dari ku. "Meninggalkan bukan berarti melupakan". Berusaha saja, dan aku juga.Nanti, seberapa besar arti akan segera diketahui.
           

14 Februari 2012

-mer=eka,=cusuar-






Mereka itu mercusuar yang memberikan penerangan. Sebuah tanda di ujung dermaga. Yang tidak perlu tampak sempurna, juga memesona.

13 Februari 2012

-berupa punggung-

"Buat apa buku sketsa itu kamu pandangi lama-lama, biasanya kamu seperti orang yang jatuh cinta, merasa paling bahagia sambil ketawa lebar-lebar layaknya orang gila??", sambil memandang aneh.

   "Aneh Ta, ini bener-bener aneh. Siang tadi, aku seperti di paksa mencari memori-memori yang aku sendiri ngga tau ada apa ngga di sini(sambil nunjuk otak)", menunjukkan muka bego.

"Heeee?? maksudnya???", si Cyta garuk-garuk kepala. 

   "Ta,, jangan-jangan aku mengidap amnesia?? Gejalanya sama lo Ta, yaitu lupa. Semakin aku berusaha mengingat, semakin aku ngga dapet apa-apa", berusaha meyakinkan si Cyta sambil mengerutkan alis mata.

"Ngaco terus. Terusin aja masuk ke dunia fiktif mu itu,

11 Februari 2012

-aphelion-

-Lagi lagi aku menguraikannya. Menyedihkan. Berada di sudut aphelion, layaknya pecundang berselimutkan malam. Jangan lagi berbisik, telingaku terlalu tuli untuk sekedar memahami. Jika dia bertanya apakah aku menyesali? Sangat. Tetapi, semua cerita terpena bagai luka. Lucu bukan, ku temukan hal-hal sama, antara aku dan mereka. Lalu dia bersuara berikan semua kadar yang sama, keterangan yang begitu luar biasa, terpatri, sampai saat ini. Tak apalah "sayang" , mungkin hanya perlu mengingat bahwa saat ini tak perlu berbicara tentang cinta.-

10 Februari 2012

-cinta-

Tepat beberapa menit berselang setelah semua berjalan seperti apa yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya, berlalu bagaikan ekor komet yang berlari menjauhi matahari. Kami akhirnya sampai pada beberapa kata yang tertulis pada salah satu jejaring soaial milik teman saya. Ber-adu syair?? begitukah sebutannya??? Hehehhehe....

cinta ya? ? ?
Cinta itu manis utk di katakan,
tp pahit utk di rasakan. .
#ihir. . .
· ·

    • Agnes Kusuma P cinta itu angin yg berhembus, berjalan, dan kemudian menghilang.. cinta itu api yg membakar, menjalar dan kemudian membekas..

      *sok puitis

      Wednesday at 9:44pm ·


    • Akhmad Furqon Rusyadi cinta itu seperti ujung kuku,

19 Desember 2011

I think it is same... :P


   It's remind me about an event a few years ago,, it was funny, when my faculty invited me to attended an event. I was thought that event ain't too important, want to fuzzy soon. hehehhehe
But in the last of our event, I was finding same thing as I ever did with my organisation at my school. I was remember, when we have an event in front of wall. That day is birthday of our organisation. When we found a food to ate together. Ate together. With a banana leaf, we spent quickly our foods. I was remember.And the time when I was attending an event at my faculty, I was getting a same thing, but the different ones the foods which our ate. Then, We ate together, it was so so so funny...