Find this blog

More Option

Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

8 Februari 2013

Kata Ayah

Kata Ayah, aku termasuk beruntung. Lahir yang pertama dan masih penuh kasih sayang.
Kata Ayah, aku termasuk beruntung. Lahir yang pertama dan masih penuh kasih sayang.
Kata Ayah, aku termasuk beruntung. Lahir yang pertama dan masih penuh kasih sayang.


Maaf, kok aku kurang paham ya Yah. Love You always.

3 Februari 2013

Kosong, sszzwwaass!

Kamu pernah ngerasa hampa nggak?? Perasaan yang kamu bawa sendiri sedang orang-orang disekitar mu masih bisa ngerasa asiknya ketawa-ketiwi, masih bisa ngerasa earphone yang nempel di telinga ngasih lagu-lagu sukses di pendengaran juga imaji. Perasaan kosong yang sekosong-kosongnya, sampe-sampe buat kedip aja susahnya minta ampun. Nggak ngerasa butuh bantuan tapi juga bingung mau ngapain. Segampang-gampangnya pekerjaan yang cuma bisa meredam, ya nulis. Walaupun hasilnya nggak jelas, kayak postingan kali ini. Over all, it's good lah for my self.

10 Januari 2013

Malam ini



     Sedingin malam ini. Semua rasanya menyergap buas di sela-sela nafas. Panjang, buang, panjang, buang. Aku tidak menikmati oksigen bebas mengudara seperti partikel yang melayang-layang lepas. Ia terjerat oleh bungkaman ku selama berjam-jam. Mataku tak lepas dari jam tangan yang ber-embun buram. Telingaku menganga lebar mendengar hujatan-hujatan sekian banyak orang. Tak seorangpun benar disana. Tak terkecuali aku. Maka aku berpikir, diam yang lebih baik. Seorang manusia yang tentu bersalah, yang tidak mampu menyalahkan. Karena disana tak sedikitpun Ia punya andil besar. Separuh pun tak ada yang benar-benar aku tangani. Aku resmi sebagai penggembira saja.
     Ini ketidak berdayaanku kepada suara. Ia selalu mencekik kejam disaat semuanya butuh mendengarkan. Tidak seorangpun sama disini. Aku si pendiam yang takut bicara panjang lebar. Aku takut suara ku bersalah atas kata-kata yang Ia keluarkan. Maka dari itu aku diam.

     Malam ini terlalu banyak evaluasi untuk kalian. Lebih banyak lagi untukku. Aku bukan diam karena aku pendiam. Didalam kediamanku aku menghujat banyak. Bukan tentang kalian, tetapi kesalahanku yang teramat sangat. Maka dari itu aku diam panjang. Aku bungkam karena kesalahan yang banyak aku lakukan.

    Aku ingin sedingin malam ini. Sunyi yang dingin. Senyap karena diam dan bising hujatan hati atas kesalahan pribadi.

2 Desember 2012

Jatuh Cinta


   Aku hanya sedang jatuh cinta. Yang terlalu berlebihan telah berlalu. Kini sisanya mulai mengembun dan menjadi titik-titik dingin menggantung di dahan hidup. Sebenarnya sudah sering ku upayakan untuk tidak menjadi miss “kepo” akhir pekan. Tetapi berbagai penawaran akhirnya meloloskan niat ku untuk melangkah. Walaupun hanya selangkah. Dan sampai saat ini aku tidak pernah menjadi tahu. Langkahku maju atau malah mundur? Sering pula aku tertawa. Hal ini seperti bahan komedi yang tidak pernah habis meski sudah hilang pelakunya. Terkenang. Secara tidak langsung.
   Salah seorang teman pernah bilang, wajar tentang mau tahu ku. Teman yang satunya lagi bilang, tidak perlu seperti itu. Makanya langkahku tidak pernah runtut dari awal hingga akhir. Sampai pada keputusanku, aku tidak lagi mau tahu.
  Siapa yang menaruh palu? Jikapun ada seseorang yang menaruhkannya untukku, keputusan itu bukanlah yang final. Rupanya aku lebih suka menimbang perasaan. Padahal sakit. Apakah kamu tahu itu?

25 November 2012

Utuh


Aku mencintaimu. Sungguh. Keduanya sama besar. Tetapi terkadang ini menjadi begitu klise untuk di jelaskan. Karena mereka seharusnya utuh untuk sama lain. Bukan melengkapi masing-masing yang lain. Keduanya begitu berarti. Tetapi tidak lebih berarti dari yang meramuku secara tunggal.
    Kalkulasikan semua kesalahanku kepadamu. Aku takut angka tidak sanggup menampungnya. Aku tidak bisa menebus apapun. Semuanya terlalu banyak. Terimakasih.
Aku mulai tua sekarang. Dan mulai paham banyak hal. Dengan hanya melihat atau mendengar. Sepi tidak lagi berarti. Karena lambat laun aku akan berpasang. Tetapi sendirimu? Bagaimana mungkin seseorang akan hidup dengan rasa yang begitu sulit dijabarkan. Tegar saja tidak cukup untuk modal hidup. Sudah banyak waktu yang sengaja terluangkan untuk kami berdua. Sekarang pikirkan tentang kebahagianmu. Berilah tempat untuk seseorang yang ingin membantu membebaskan mu dari bingkai hitam. Bodoh jika aku risau dengan perasaan, karena akan banyak kebahagiaan yang sering tersirat darimu. Membayangkan saja sudah teramat menyenangkan.
    Berbeda lagi untukmu, lama sepertinya aku tidak melihatmu secara tepat. Hanya lamat-lamat saja. Itupun waktu yang membuat kita teramat asing satu sama lain. Kita seperti sepasang manusia yang baru mengenal. Kenapa aku tidak melewatkan banyak waktu untuk sekedar berbincang secara normal seperti hubungan kita seharusnya? Aku sering menemui mu, tetapi percakapan itu sering kali tidak sama rasanya seperti beberapa tahun silam. Ada bagian yang hilang. Seharusnya dari awal kita baik-baik saja. Mungkin aku terlihat sangat membencimu. Jangan percaya aku untuk itu. Aku merindukan mu. Sangat.
     Bisakah kita duduk berempat sekali lagi?? Aku hanya ingin mengingat bagaimana rasanya memiliki yang utuh.

15 Oktober 2012

Intropeksi Diri


          Sekarang aku tahu alasan kita berdua menghilang. Suhu dunia mu dan dan dunia ku samar tak lagi berkibar. Titik-titik maya yang menghubungkan kita terpenggal sudah. Sekarang tinggal bagaimana sikap kita, menggoreskannya lagi atau menghapusnya setitik demi setitik. Hingga hiruk pikuk hati tak lagi berbunyi, berdenting dan terdengar keras. Kasih sayang hanya terdapat dalam bayangan, semua semu antara kita. Tanpa tedensi atau sudut relevansi, aku tak mungkin selangkah maju atau selangkah mundur. Berdiam dengan berlagak tenang barangkali sudah sangat menjemukan.
    Tendeng aling-aling ini akan kembali normal. Kamu dan aku yang dulu. Tanpa kita dalam sebuah cerita. Tanpa kita harus berbisik untuk saling bertukar rindu karena malu, sekalipun aku memang benar-benar rindu kamu saat itu. Tetapi semua kerinduan itu palsu. Entah aku atau kamu yang memalsukannya. Atau kepalsuan itu bagian dari cerita kita. Aku tak lagi mau tahu.
    Menitih dan menanti sesuatu yang tak pasti itu melelahkan. Walaupun seratus persen ion di tubuhku merasa yakin tentang bahasa tubuh kita. Berusaha tegar dan bangkit untuk memastikan kelanjutannya. Perasaan tetaplah perasaan, ada saat dimana ia harus turun drastis dalam keadaan tidak normal. Penawarnya adalah intropeksi diri. Mengumpulkan kembali serpihan-serpihannya, dan kembali menggabungkan.

12 Oktober 2012

Katanya, Cinta

  Perhatian luar biasa. Bahkan melebihi batas wajar. Terpaksa, dipaksa atau tulus rela. Katanya, cinta. Dulu. Lalu sekarang?? Masih utuh? Separuh atau modal keberanian karena kasihan. Apapun alasannya, tak ku terima. Segalanya merupakan sesuatu yang salah tempat. Interupsi dari hati. Hati yang terpaut karena gelisah. Tidak hanya guratan kecewa, tetapi pilu meratap kalbu. Aku tak berharap menjadi wajar, sedikit keinginan pun tidak. Sadar, tolong! Telingaku tak sekedar menerima sampah, tetapi juga serapah bisik hati agar kau segera hilang dari diri. Kerelaan yang sama sulitnya untuknya.

  Bagaimanapun juga, masing-masing tetap terpatri. Aku, kau, dia dan mereka. Yang sama linglungnya. Tidak saling mengerti. Sama-sama punya kendali, kecuali aku. Yang hanya dengan tatapan melihat tanpa pernah ingin mencampuri. Tetapi tetap saja tercampuri. Karena kita campur, bak adonan roti yang menggumpal menjadi satu.

  Katanya, cinta. Hadir dengan dalil-dalil yang menyembunyi arti. Tanpa surat tetapi tersirat. Jelas.

Ada



Riwayat hidup manusia tidak mungkin sama. Setiap jalur yang mereka tempuh, ada pertemuan titik yang sama sekali tidak hadir di kehidupan masing-masing pribadi. Oleh karena itu rutinitas, cara pandang, problematika dan pemecahan konflik yang pernah ada atau sedang kita alami berbeda. Ada jalur yang kita ambil lurus, tentram, atau  menyimpang dengan garis yang tak sejajar dan berantakan. Sedang saat ini, satu hal yang membuat kita berada di satu poros yang sama. Satu titik dengan alur garis di suatu sumbu. Sebuah drama orkestra dengan irama musik balad. Bertitik bangun ketulusan, penantian, harapan dan segelintir pertanyaan. Adakah kamu disana?
Esensinya hidup itu ada dan diakui keberadaannya. Sedang kamu ada dalam ketiadaan. Sekilas nyata tetapi ternyata hanya sebuah kapas yang dengan segera terbang melayang. Selembut sutra, tetapi berduri jika diamati. Aku tidak sebegitu tahu tentang tulisan pada riwayat hidupmu, adakah sepatah atau dua patah tertera namaku di lingkar penamu? Atau kertasmu telah penuh dengan jejak tapak? Dan sekali lagi aku berharap. Sebuah ilusi. Mimpi dan bunga tidur malam hari.
Harapan itu seketika pergi bersama pesan yang kukirimkan pagi tadi. Aku mengusirnya paksa. Karena jika Ia tetap hadir, niscaya aku patah dan terkapar diperapian. Hangus dan lenyap menjadi abu. Rela atau tidak, aku harus mengakui. Kamu titik pusat di galaksi kehidupan. Bukan hanya aku yang berevolusi mengitari, tetapi planet lain sedia memutar disampingmu. Dan aku kalah. Karena jawaban yang sempat hadir dan mungkin tak bisa ku baca.
Catatan ini sengaja aku kirim untuk September hingga awal Oktober, Apa kabar? Maaf basa basi di media. Karena hanya dengan media ini aku lancar berbahasa. Dengan perasaan dan ketikan yang beberapa kali sempat berhenti karena sepertinya aku mati kelaparan tanpa kabar. Kali ini aku hanya ingin meminta ijin, ada kamu dalam riwayat ku, ada namamu dalam inisial goresanku. Maaf karena telat, karena sudah beberapa kali aku mencantumkannya. Semoga kamu senang dalam keberadaan.